Tembang Macapat merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang memiliki kedalaman makna dan filosofi kehidupan. Banyak orang yang mungkin sudah mendengar istilah ini, terutama bagi yang hidup di daerah Jawa, namun tak semua memahami arti dan keunikannya. Tembang Macapat tidak hanya sekadar seni berpuisi, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang tembang Macapat, mulai dari jenis-jenisnya, makna dari setiap tembang, hingga contoh syair yang menggambarkan kebijaksanaan Jawa. Dengan informasi yang lengkap dan penjelasan yang mudah dipahami, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas mengenai kekayaan budaya Indonesia yang satu ini.
Mengenal Tembang Macapat
Tembang Macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang umumnya digunakan untuk menyampaikan ajaran kehidupan. Tembang ini biasanya dinyanyikan dengan tata aturan yang ketat dalam hal jumlah baris, suku kata, serta sajak. Setiap jenis tembang memiliki uraian dan aturan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tema atau pesan yang ingin disampaikan.
17 Jenis Tembang Macapat dan Maknanya
Tembang Macapat terdiri dari 17 jenis yang masing-masing memiliki nama, aturan, dan pesan tersendiri. Setiap jenis tembang ini mengandung makna filosofis yang mendalam, yang seringkali terkait dengan siklus kehidupan manusia. Berikut ini adalah penjelasan lengkap dari setiap jenis tembang Macapat.
Maskumambang
Maskumambang adalah tembang pertama dalam urutan tembang Macapat. Tembang ini menggambarkan fase awal kehidupan manusia, yaitu ketika masih berada dalam rahim ibu. Dalam bahasa Jawa, “mas” berarti emas, dan “kumambang” berarti mengambang, melambangkan kehadiran jiwa yang baru.
Mijil
Mijil melambangkan kelahiran dan awal kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “mijil” berarti keluar atau lahir. Tembang ini sering digunakan untuk menggambarkan awal yang baru atau lahirnya harapan baru. Maknanya adalah pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.
Sinom
Sinom mengacu pada masa muda. Tembang ini menggambarkan masa-masa ketika seseorang memasuki masa remaja dengan segala pergolakan emosional dan keinginan yang bertumbuh. Sinom menyiratkan harapan, pertumbuhan, dan kemudaan.
Kinanthi
Tembang Kinanthi menggambarkan fase kehidupan ketika seseorang mulai menentukan arah hidupnya. “Kinanthi” berarti dibimbing atau diarahkan, menunjukkan bahwa dalam fase ini bimbingan atau arahan diperlukan untuk mencetak masa depan yang cerah.
Asmaradana
Asmaradana adalah tembang yang menggambarkan cinta dan asmara. Dalam fase ini, manusia biasanya merasakan cinta mendalam kepada seseorang. Asmaradana sering kali digunakan untuk menyampaikan rasa cinta yang membara.
Gambuh
Gambuh merupakan tembang yang mencerminkan kematangan atau kedewasaan. Pada fase ini, seseorang dianggap telah menemukan keseimbangan dalam hidup, baik secara emosional maupun intelektual.
Dhandanggula
Dhandanggula melambangkan kebahagiaan dalam hidup. Tembang ini biasanya dihubungkan dengan keadaan di mana seseorang telah mencapai kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya.
Durma
Tembang Durma biasanya menggambarkan kesedihan atau perpisahan. Fase ini adalah ketika kehidupan mendapati tantangan yang menimbulkan kesedihan, yang harus diterima dengan bijaksana.
Pangkur
Pangkur berkaitan dengan kemampuan untuk mengatasi segala duka dan kesulitan dalam hidup. Menyiratkan bahwa setiap masalah harus dihadapi dengan keberanian dan tekad.
Megatruh
Megatruh menggambarkan kematian atau akhir dari kehidupan duniawi. Tembang ini mengingatkan bahwa pada akhirnya setiap kehidupan akan sampai pada batasnya, dan yang abadi adalah kenangan dan kebajikan.
Pocung
Pocung mengacu pada kehidupan setelah kematian, fase jiwa yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia. Pocung adalah simbol transformasi dari dunia fisik ke spiritual.
Girisa
Girisa merupakan tembang yang berbicara tentang kontemplasi dan introspeksi. Pada fase ini, seseorang disarankan melakukan refleksi diri terhadap apa yang telah dicapai dan dipelajari sepanjang hidupnya.
Balabak
Balabak menggambarkan kesalahan dan penyesalan. Dalam hidup, manusia tidak terlepas dari kesalahan, dan Balabak mengajarkan pentingnya menerima dan belajar dari kesalahan tersebut.
Jurudemung
Tembang Jurudemung adalah ajakan untuk bersyukur dan memantapkan niat dalam kebaikan. Ini menegaskan pentingnya bersyukur atas segala yang telah diberikan kepada kita dan selalu berbuat baik kepada orang lain.
Wirangrong
Wirangrong menggambarkan kearifan dan kebijaksanaan. Ini mengajarkan bahwa seseorang harus mencapai kebijaksanaan dari semua pelajaran kehidupan yang telah dijalani, dan menggunakannya untuk membantu sesama.
Contoh Syair Macapat
Untuk lebih memahami keindahan tembang Macapat, berikut adalah contoh syair yang berasal dari tembang Dhandanggula yang mencerminkan makna kebahagiaan:
“Kita gumeming kajataya, ngupadi wasitaning tyas, ngleluri gendhing satria, rinegmatan ing drajat, ginayuh prasetya, mulur kanthi darma, gajet ngupaya suka memayah bektining pracurit, ngupadiyo kasembadan.”
Syair ini menggambarkan usaha mencari kebahagiaan sejati melalui tindakan baik dan tekad kuat. Ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya hadir dari dunia materi, tetapi dari kedamaian jiwa.